Kamis, Agustus 18, 2022
Google search engine
BerandaDaerahAparatur Desa Diduga Jadi Dalang Pengeroyokan Wartawan. Dewan Penasehat SMSI Karawang :...

Aparatur Desa Diduga Jadi Dalang Pengeroyokan Wartawan. Dewan Penasehat SMSI Karawang : Minta Polisi Tangkap Para Pelaku Dan Usut Tuntas Kasus Pengeroyokan

KARAWANG – Terkait penganiyaan sejumlah wartawan yang diduga dilatarbelakangi pemberitaan dan tugas jurnalistik, diduga dilakukan oleh oknum aparat desa dan sekelompok orang.

Dewan Penasihat (Wanhat) Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Karawang N.Hartono mengutuk keras tindakan penganiayaan yang menimpa tiga wartawan saat akan mengkonfirmasi berita terkait Bantuan Sosial di Desa Waluya Kecamatan Kutawaluya Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Senin (7/3/22).

“Saya minta pihak kepolisian untuk mengusut dan memproses hukum para pelakunya. Dan minta kepada polisi untuk segera menangkap para pelakunya,” tegas Hartono.

Menurut Romo sapaan akrab N.Hartono mendesak kepolisian, agar mengusut tuntas kasus kekerasan tersebut. Para pelakunya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Photo N Hartono Dewan Penasehat SMSI Karawang

Para jurnalis lanjut Romo, saat melaksanakan tugasnya dilindungi undang-undang dan mematuhi kode etik jurnalistik. Sehingga, apa yang dilakukan oleh oknum aparat desa dan kelompok yang disinyalir preman bayaran itu telah melanggar UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan melakukan tindak pidana yang diatur dalam KUHP.

“Dalam UU Pers itu, selain menjamin kebebasan pers di Indonesia, juga mengancam siapapun yang dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi kerja jurnalistik dapat dipidanakan,” tegasnya.

Perbuatan para pelaku penganiayaan lanjut Romo, telah mencederai nilai-nilai kebebasan pers, dan telah melukai hak publik untuk memperoleh informasi.

Para pihak yang terlibat dalam penganiayaan ini, merupakan salah satu bentuk kedzaliman  terhadap kebebasan pers dan sangat jelas merupakan tindakan kriminal dan melanggar KUHP serta Undang Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.

“Sekali lagi saya sangat mengutuk keras aksi kekerasan tersebut dan menuntut semua pelakunya diadili serta dijatuhi hukuman sesuai hukum yang berlaku,” tandasnya.

Ditegaskan Romo, kejadian penganiayaan itu merupakan tindak pidana, yang melanggar setidaknya dua aturan. Yakni pasal 170 KUHP Jo pasal 351 ayat 2 KUHP mengenai penggunaan kekerasan secara bersama-sama terhadap orang dan penganiayaan, dan pasal 18 ayat 1 UU Pers tentang tindakan yang menghambat atau menghalangi kegiatan jurnalistik, pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah).

“Atas peristiwa ini, kami atas nama SMSI mendesak pihak kepolisian yang sudah menerima laporan dari korban, untuk menindaklanjuti secara objektif dan profesional,” jelasnya.

Berdasarkan Informasi yang diterima, peristiwa penganiayaan sejumlah wartawan ini salah satu nya Nina Meilani Paradewi selaku Sekretaris SMSI Kabupaten Karawang, Damanhuri dan Suhada yang merupakan jurnalis media online di Karawang, itu terjadi pada hari Senin siang (7/3/22). Mereka dianiaya oleh oknum aparat desa dan sekelompok orang yang diduga sebagai orang suruhan.

Damanhuri salah satu wartawan yang menjadi korban pengeroyokan menjelaskan, saya bersama dua (2) orang teman saat itu sedang melakukan investigasi dan konfirmasi terkait adanya dugaan kasus pemotongan dana BPNT di Desa Waluya.

Namun tiba-tiba puluhan orang yang diduga adalah aparatur Desa setempat langsung berkata kasar dan mengusir kami yang saat itu sedang mewawancarai salah satu warga, bukan hanya itu, puluhan orang tersebut juga sampai melakukan pengeroyokan terhadap saya dan dua (2) orang teman saya, yaitu, Nina dan Suhada yang juga merupakan wartawan, ungkap Damanhuri saat ditemui di Kantor Polsek Rengasdengklok, Senin (07/03/2022).

Photo Damanhuri dan Nina Meilani Paradewi saat membuat laporan di Polsek Rengasdengklok

Lebih lanjut Damanhuri mengatakan, atas kejadian pengeroyokan tersebut saya, Nina Meilani Paradewi dan Suhada mengalami luka memar, kami sudah melakukan visum dan kemudian membuat laporan polisi di Polsek Rengasdengklok.

“Kami serahkan permasalahan ini kepada pihak kepolisian, semoga hal seperti ini tidak terjadi lagi terhadap rekan-rekan wartawan lainnya”, tutup Damanhuri.

Supaya kasus kekerasan terhadap jurnalis ini mendapatkan atensi serius dengan memeriksa semua pihak yang terlibat sebagai pelaku, baik langsung atau tidak langsung.

Photo Damanhuri saat menjalani pemeriksaan visum di rumah sakit
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments