Kamis, Agustus 18, 2022
Google search engine
BerandaNewsPeraih Nobel Ramos Horta Unggul Sementara Pada Pilpres Timur Leste

Peraih Nobel Ramos Horta Unggul Sementara Pada Pilpres Timur Leste

Jakarta – Politisi senior Ramos Horta unggul sementara pada pilpres Timor Leste dengan perolehan suara secara nasional diatas 53 persen. Kandidat presiden peraih Nobel itu mengungguli rivalnya Francisco “Lu Olo” Guterres yang tak lain adalah incumbent.

Ramos Horta diusung oleh Partai CNRT pimpinan Xanana Gusmao. Ia dikenal cukup populis dikalangan masyarakat Timor Leste.

Timor Leste menggelar pemilihan presiden (pilpres) pada Sabtu (19/3). Ada 16 orang yang menjadi kandidat presiden negara itu, mulai dari mantan pendeta Katolik hingga pemenang Hadiah Nobel.

Ada empat perempuan yang juga ikut mencalonkan diri sebagai Presiden Timor Leste. Salah satu perempuan itu ialah Wakil Perdana Menteri, Armanda Berta Dos Santos.

Dari jajak pendapat sementara yang dikumpulkan universitas nasional, ada dua kandidat yang mendapat suara terbanyak yakni Ramos-Horta dan sang petahana, Presiden Guterres.

Per Minggu (20/3) sebanyak 73 persen total suara sudah dihitung. Sebanyak 45,88 persen suara mendukung Ramos-Horta dan petahana Presiden Guterres meraih 22,66 persen dukungan.

Seluruh 14 kandidat capres lainnya hanya meraih kurang dari 10 persen saja, seperti dilansir The Sydney Morning Herald.

Dalam pilpres Timor Leste kali ini, isu utama yang dibahas adalah diversifikasi ekonomi, mengingat negara paling muda di Asia Tenggara itu sangat bergantung dengan suplai minyak dan gas dari luar negeri.

Pemungutan suara berlangsung hingga pukul 15.00 waktu setempat. Namun, ada beberapa pemilih di ibu kota yang tak bisa memberikan suara mereka karena kebijakan tempat tinggal.

“Banyak orang yang tak bisa memilih karena mereka tidak terdaftar dalam data sebagai warga dari luar kota Dili,” ujar salah satu kepala pos pemilihan di Comoro, Joao Ximenes, kepada Reuters.

Ximenes juga mengungkapkan ada dua orang yang ditangkap di pos pemilihan kala protes muncul akibat masalah ini.

Namun, sejumlah pejabat mengaku tak bisa memperkirakan berapa banyak orang yang terdampak aturan tersebut.

Meski ada masalah yang terjadi kala pemilihan, beberapa masyarakat dapat memberikan suara, pun mengungkapkan harapan dan pengalaman mereka dalam pilpres kelima sejak Timor Leste merdeka ini.

“Kita harus memilih generasi baru sehingga kita bisa membangun negeri ini,” kata seorang warga, Jorge Mendonca Soares, yang kala itu baru saja selesai mengantre di salah satu pos pemilihan di Dili, Sabtu (19/3/2022).

Seorang pemilih baru, Marco de Jesus(17), mengatakan ia sempat merasa gugup. Namun, ia kembali tenang setelah mendapatkan bantuan dari staf pemilihan.

“Saya merasa bangga karena bisa menjalankan kewajiban saya sebagai pemilihan,” ungkapnya.

“Saya harap pilihan saya dapat memberikan perubahan yang positif dan berguna.” Sambungnya.

Dalam sistem politik Timor Leste, presiden memiliki kewenangan membentuk pemerintahan, memveto menteri, dan membubarkan parlemen.

Setelah lepas dari Indonesia 2 dekade lalu, Timor Leste terus mengalami ketidakstabilan politik.

Pada pemilihan 2018, Guterres menolak memberikan sumpah ke beberapa menteri yang berasal dari partai Nasional Rekonstruksi Timor Timur (CNRT). Partai ini dipimpin oleh mantan Perdana Menteri Xanana Gusmao.

Mengutip Britannica, Gusmao merupakan presiden pertama Timor Leste dan sempat menjabat sebagai perdana menteri.

Sejak itu, kebuntuan politik terus dirasakan Timor Leste hingga hari ini.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments